19 Agustus 2019 15:38:09
Ditulis oleh Admin

Sejarah Desa

Desa Minohorejo menurut pendapat para ahli tafsir dan sesepuh desa telah ada sejak sekitar 400 tahun yang lalu, hal ini didasarkan pada peninggalan makam tua yang dianggap sebagai makam leluhur warga Minohorejo yaitu Mbah Muso, Mbah Muso sendiri adalah seorang sakti yang dipercaya sebagai pendiri sekaligus orang yang memberikan nama Minohorejo pada perkampungan yang baru didirikannya.

Nama Desa Minohorejo sendiri diambil dari suatu peristiwa dimana Mbah Muso menemukan sebuah hutan belantara yang konon didihuni oleh seekor ratu ikan yang benama Gonggo Mino. Wujud dari ratu ikan tersebut hanya terdiri dari Kepala dan tulang – belulang, Gonggo Mino mendiami sebuah aliran sungai yang mengalir di sepanjang tiga daerah hutan terlarang, yaitu hutan pandan, hutan beringin, dan sebuah daerah yang disebut “Gowah” mengapa dinamakan Gowah karena ditempat tersebut ada sebuah cerukan kecil yang mirip dengan GOA.

Pada awalnya perkampungan yang didirikan Mbah Muso terletak disebelah barat daya perkampungan yang sekarang. Tempat tersebut dikenal dengan nama “Ndukuh/Ndukoh” yang berasal dari kata Dukuh atau berarti Padukuhan. Seiring berjalannya waktu perkampungan kecil yang dibangun Mbah Muso menjadi terlalu sempit karena penduduknya berkembang dengan pesat, akhirnya Mbah Muso pergi ke hutan terlarang yang dihuni oleh Gonggo Mino untuk meminta izin guna mendiami daerah tersebut.

Karena sebab yang tidak diketahui ( mungkin semacam perjanjian ) akhirnya Mbah Muso membuktikan kesaktiannya dengan menghentikan mta air raksasa yang membanjiri daerah hutan pandan hanya dengan menggunakan sebuah lidi atau “Duk”. Sebagai imbalan Mbah Muso dan Warganya boleh mendiami daerah hutan tersebut dan menjadikannya sebagai perkampungan baru yang disebut “ Dusun Pandan “ , tetapi Mbah Muso masih menyisakan sedikit aliran mata air raksasa tersebut untuk kepentingan warganya.

Seperti dikisahkan sebelumnya, kehidupan warga dusun tersebut pun makin berkembang seiring berjalannya waktu, sehingga Mbah Muso harus kembali membuat kesepakatan dengan Gonggo Mino untuk mendiami sebuah daerah di sebelah timur hutan pandan, tempat tersebut dikenal sangat angker karena di tempat tersebut banyak terdapat pohon beringin yang berukuran raksasa, karena menghargai jasa Mbah Muso akhirnya Gonggo Mino pun mengajak pengikutnya pergi ke daerah terakhir yang masih tersisa yaitu Gowah, dan sebagai penghormatan pada Gonggo Mino atas segala kebaikannya maka kemudian penduduk menamai daerah tersebut dengan nama Dusun Beringin. Dan menamai seluruh daerah tersebut dengan nama “MINOHOREJO” yang memiliki makna Tempat Ratu Ikan (MINO) yang menjadi ramai (REJO).

Ternyata Mbah Muso memang seorang yang sakti sehingga ia mampu memmperkirakan bahwa perkampungan tersebut akan terus berkembang dan akan membutuhkan daerah baru sehingga sebelum wafat Mbah Muso telah meminta izinb kembali pada Gonggo Mino, apabila dikemudian hari warga Minohorejo kehabisan daerah untuk tempat tinggal maka warga Minohorejo boleh mendiami sisa H Desa Minohorejo menurut pendapat para ahli tafsir dan sesepuh desa telah ada sejak sekitar 400 tahun yang lalu, hal ini didasarkan pada peninggalan makam tua yang dianggap sebagai makam leluhur warga Minohorejo yaitu Mbah Muso, Mbah Muso endiri adalah seorang sakti yang dipercaya sebagai pendiri sekaligus orang yang memberikan nama Minohorejo pada perkampungan yang baru didirikannya.

Nama Desa Minohorejo sendiri diambil dari suatu peristiwa dimana Mbah Muso menemukan sebuah hutan belantara yang konon didihuni oleh seekor ratu ikan yang benama Gonggo Mino. Wujud dari ratu ikan tersebut hanya terdiri dari Kepala dan tulang – belulang, Gonggo Mino mendiami sebuah aliran sungai yang mengalir di sepanjang tiga daerah hutan terlarang, yaitu hutan pandan, hutan beringin, dan sebuah daerah yang disebut “Gowah” mengapa dinamakan Gowah karena ditempat tersebut ada sebuah cerukan kecil yang mirip dengan GOA.

Pada awalnya perkampungan yang didirikan Mbah Muso terletak disebelah barat daya perkampungan yang sekarang. Tempat tersebut dikenal dengan nama “Ndukuh/Ndukoh” yang berasal dari kata Dukuh atau berarti Padukuhan. Seiring berjalannya waktu perkampungan kecil yang dibangun Mbah Muso menjadi terlalu sempit karena penduduknya berkembang dengan pesat, akhirnya Mbah Muso pergi ke hutan terlarang yang dihuni oleh Gonggo Mino untuk meminta izin guna mendiami daerah tersebut.

Karena sebab yang tidak diketahui ( mungkin semacam perjanjian ) akhirnya Mbah Muso membuktikan kesaktiannya dengan menghentikan mta air raksasa yang membanjiri daerah hutan pandan hanya dengan menggunakan sebuah lidi atau “Duk”. Sebagai imbalan Mbah Muso dan Warganya boleh mendiami daerah hutan tersebut dan menjadikannya sebagai perkampungan baru yang disebut “ Dusun Pandan “ , tetapi Mbah Muso masih menyisakan sedikit aliran mata air raksasa tersebut untuk kepentingan warganya.

Seperti dikisahkan sebelumnya, kehidupan warga dusun tersebut pun makin berkembang seiring berjalannya waktu, sehingga Mbah Muso harus kembali membuat kesepakatan dengan Gonggo Mino untuk mendiami sebuah daerah di sebelah timur hutan pandan, tempat tersebut dikenal sangat angker karena di tempat tersebut banyak terdapat pohon beringin yang berukuran raksasa, karena menghargai jasa Mbah Muso akhirnya Gonggo Mino pun mengajak pengikutnya pergi ke daerah terakhir yang masih tersisa yaitu Gowah, dan sebagai penghormatan pada Gonggo Mino atas segala kebaikannya maka kemudian penduduk menamai daerah tersebut dengan nama Dusun Beringin. Dan menamai seluruh daerah tersebut dengan nama “MINOHOREJO” yang memiliki makna Tempat Ratu Ikan (MINO) yang menjadi ramai (REJO).

Ternyata Mbah Muso memang seorang yang sakti sehingga ia mampu memmperkirakan bahwa perkampungan tersebut akan terus berkembang dan akan membutuhkan daerah baru sehingga sebelum wafat Mbah Muso telah meminta izinb kembali pada Gonggo Mino, apabila dikemudian hari warga Minohorejo kehabisan daerah untuk tempat tinggal maka warga Minohorejo boleh mendiami sisa Hutan terlarang yang terakhir yang dihuni Gonggo Mino yakni “GOWAH”. Dan sampai saat tulisan ini dibuat warga Minohorejo telah mendiami wilayah tersebut dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini dan pemekaran wilayah baru tersebut kemudian dinamakan dengan Dusun Gowah.

Dan sampai saat ini untuk menghormati Gonggo Mino setiap tahun pada setiap panen tiba di Ds. Minohorejo  selalu menggelar acara sedekah bumi yang di adakan di sebuah sumur tua yang ada di Wilayah Dusun Gowah yang konon menjadi tempat tinggal dari Gonggo Mino

Hutan terlarang yang terakhir yang dihuni Gonggo Mino yakni “GOWAH”. Dan sampai saat tulisan ini dibuat warga Minohorejo telah mendiami wilayah tersebut dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini dan pemekaran wilayah baru tersebut kemudian dinamakan dengan Dusun Gowah.

Dan sampai saat ini untuk menghormati Gonggo Mino setiap tahun pada setiap panen tiba di Ds. Minohorejo  selalu menggelar acara sedekah bumi yang di adakan di sebuah sumur tua yang ada di Wilayah Dusun Gowah yang konon menjadi tempat tinggal dari Gonggo Mino

Sejarah Pemerintahan Desa :

Sejak pertama kali berdirinya pemerintahan Minohorejo pada jaman kerajaan Majapahit, Desa Minohorejo pada awalnya dipimpin oleh para Tokoh yang pada sejarahnya diketahui sebagai berikut :

  1. GANDRI
  2. WARJO
  3. SABIDIN
  4. KERI
  5. MUNAJAB                                                          ( 1950 – 1952 )
  6. SUDIRMAN                                                        ( 1952 – 1956 )
  7. PUNADI                                                                ( 1956 – 1988 )
  8. MUKMIN / Pj.                                                    ( 1988 – 1989 )
  9. GUNADI selama 2 periode : 
    1. Periode Pertama                                     ( 1991 – 1999 )         
    2. Periode Kedua                                         ( 1999 – 2007 )
  10. ENDANG SUSILONINGRUM                  ( 2007 – 2012 )
  11. MUNASIS, SH. / Pj.                                         ( 2012 – 2013 )
  12. MOHAMAD ZAINUL ARIFIN,S.Pd      ( 2014 – 2019)
  13. SUYONO                                                             ( 2019 - Sekarang )



Kategori

Bagikan :

comments powered by Disqus